Laku Pandai disingkat dari Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif, yaitu Program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk penyediaan layanan perbankan atau layanan keuangan lainnya melalui kerja sama dengan pihak lain (agent bank), dan didukung dengan penggunaan sarana teknologi informasi.

Program ini bertujuan menyediakan produk-produk keuangan yang sederhana, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang belum dapat menjangkau layanan keuangan. Selain itu, juga melancarkan kegiatan ekonomi masyarakat sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan antarwilayah di Indonesia, terutama antara desa dan kota.

Bagi perbankan dan lembaga keuangan, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 19/POJK.03/2014 tentang Layanan Keuangan Tanpa Kantor disambut dengan baik. Mereka tidak perlu membuka kantor cabang yang menelan investasi miliaran per cabang, tetapi cukup membangun jaringan agent yang jauh lebih murah.

Kebijakan ini bukan hanya berlaku untuk bank bank besar, namun juga bank bank kecil serta BPR / BPRS. Beberapa bank yang sudah melakukan Laku Pandai antara lain BRI melalui jaringan BRILink, BTPN melalui jaringan BTPN Wow, BCA, Bank Mandiri, BNI dan lainnya. Bank daerah yang sudah melaunching laku pandai salahsatunya Bank Jateng lewat layanan Duta.

BRI, bank yang selama ini fokus di sektor mikro, memang relatif lebih beruntung karena infrastrukturnya lebih siap. Sampai dengan triwulan 3 2016 BRI mengklaim sudah memiliki 65.000 agent di seluruh Indonesia. Dengan membekali setiap agent dengan mesin EDC, BRI merogoh investasi yang cukup besar,meskipun mereka diuntungkan dengan jaringan kantor yang sudah merata sehingga tidak diperlukan investasi yang besar untuk promosinya.

Berbeda dengan BRI yang sudah memiliki infrastruktur yang kuat, BTPN melaunching laku pandai dengan brand BTPN Wow. Untuk mengejar pesaing, BPTN mengeluarkan budget yang cukup besar untuk melakukan branding. Setidaknya BPTN merogoh kocek hampir 500 milyar untuk menggandeng 70.000 agent yang ditargetkan sampai dengan akhir tahun 2016 ini.

BNI melakukan laku pandai dengan program e warung KUBE dan Agen46 yang saat ini telah memiliki 11.000 agent yang juga berfungsi sebagai tempat penyaluran bantuan sosial dari pemerintah. Jumlah agent BNI ini sepertinya tidak jauh berbeda dengan jumlah agent Bank Mandiri dan BCA yang menggandeng Indepay untuk pengembangan programnya. Sampai dengan saat ini Bank Mandiri memiliki jumlah agent sebanyak 17.000 agent dan sampai dengan akhir tahun 2016 Bank Mandiri mentargetkan menggandeng 30.000 agent sedangkan BCA mentargetkan 10.000 agent.

Persaingan memperebutkan agent sangat sulit, apalagi agent untuk mencari nasabah. Investasi ratusan milyar bagi bank / lembaga keuangan berpotensi gagal. Menjawab permasalahan itu PT Bursa Dana Indonesia hadir sebagai penyedia jasa keagenan bank / lembaga keuangan yang terintegrasi antar bank yang dikembangkan dengan online to offline financial aggregator.

Keuntungan bagi bank / lembaga keuangan.

  1. Tidak perlu investasi teknologi dalam membangun jaringan agent
  2. Tidak perlu investasi pengembangan SDM marketing
  3. Tidak perlu membangun kantor cabang
  4. Efisiensi biaya operasional
  5. Semua transaksi dapat dilakukan di seluruh jaringan PT Bursa Dana Indonesia
  6. Menumbuh persaingan bank / lembaga keuangan yang lebih sehat

 

Keuntungan bagi nasabah / konsumen.

  1. Ada satu tempat / aplikasi yang bisa mewakili layanan banyak bank / lembaga keuangan
  2. Nasabah dapat memilih dan membandingkan layanan keuangan yang paling pas sesuai dengan kebutuhannya.