Investasi merupakan salah satu langkah penting untuk mencapai kemapanan dalam keuangan. Bagian dari manajemen bisnis ini menjanjikan hasil optimal yang bisa dipetik di masa mendatang. Ketika usia produktif sudah lewat, investasi bisa membantu keuangan tetap stabil. Namun sebelum memulainya, Anda juga harus cermat mengenali investasi bodongterlebih dahulu.

Pentingnya investasi sebagai manajemen bisnis membuat sebagian besar pelaku bisnis menaruh minat besar untuk berinvestasi. Pilihannya sangat beragam, mulai dari investasi emas, saham, sampai tabungan. Dengan prospek yang menjanjikan peluang keuntungan sangat besar, sudah tentu ada risiko besar pula yang akan selalu mengintip dalam setiap instrumen investasi.

Beragam modus dalam investasi bodong sering dijalankan dengan penawaran paket reseller produk, jual Instagram tools, atau tawaran pelayanan pendukung virtual office dan replika website. Inilah jalur ilegal yang akan jadi pembenaran agar Anda membayar sejumlah uang tertentu.

Modus investasi bodong biasanya juga dimulai dengan menjaring masyarakat menjadi anggota baru. Serupa etika pendaftaran, Anda akan dikenakan kewajiban keanggotaan dalam jumlah yang lumayan besar. Kewajiban sejenis pun banyak terjadi dalam modus pemberian sembako beras dan penyertaan modal usaha.

Setoran wajib tersebut biasanya dilakukan secara bertahap dan bergilir, dengan iming-iming keuntungan berlipat. Misalnya, simpanan wajib 1 paket senilai Rp 250 ribu yang dijanjikan keuntungan hingga Rp 11 juta. Bisa juga dengan model reinvest setelah menerima bantuan usaha, yang “memaksa” Anda membayar Rp 1 juta beserta reinvest sebesar Rp 200 ribu per paket.

Berbagai risiko lain dalam modus investasi bodong memang menjadi dinamika berbisnis yang tidak dapat dihindari. Namun, seperti kata pemilik klub NBA Dallas Mavericks dan investor Landmark Theatres serta Magnolia Pictures, Mark Cuban,

Doesn’t matter how many times you’ve failed, you only have to be right once.

Anda tetaplah harus mampu bangkit dan membangun sukses dari risiko kegagalan.

Agar lebih memahami ciri-ciri investasi bodong, 7 modus berikut ini juga perlu Anda kenali, di antaranya:

Membayar Kewajiban Uang Muka

Pelaku investasi bodong seringkali meminta uang muka, dengan iming-iming keuntungan yang berlipat. Mereka juga akan meyakinkan Anda bahwa besarnya jumlah uang yang disetorkan akan menghasilkan keuntungan yang semakin tinggi.

Iming-iming Keuntungan Melalui Keputusan yang Mendesak

Upaya memengaruhi yang dilakukan pelaku investasi bodong juga bisa menyerang cara-cara Anda mengambil keputusan. Mereka akan meminta dan mendesak Anda untuk segera bergabung, melalui prospek keuntungan yang tampak muluk. Misalnya dengan memberi batas waktu yang singkat sehingga muncul kesan mendesak dan pengambilan keputusan yang terburu-buru.

Dijanjikan Pendapatan Hasil Investasi dalam Waktu Singkat

Selain propsek keuntungannya yang tampak muluk, kebanyakan pelaku investasi bodong juga akan meyakinkan bahwa keputusan mendesak Anda akan berbuah manis dalam waktu singkat. Harapan palsunya bisa dijanjikan dalam satu atau tiga bulan. Padahal tidak semua jenis investasi bisa berbuah manis dalam tempo yang sesingkat itu.

Return Tinggi tapi Minim Risiko

Mempertanyakan risiko ketika akan berinvestasi adalah hal lumrah. Akan tetapi berhati-hatilah jika risiko yang dijanjikan dari return terlampau besar, ternyata sangat minim. Bisa jadi ini cara ilegal pelaku investasi bodong untuk secepat mungkin mendapat persetujuan Anda saja.

Produk Investasinya Menawarkan Pilihan Level

Pelaku investasi bodong akan menawarkan produk dengan berbagai pilihan level. Istilah paket paling umum yang akan ditawarkan yakni paket silver, gold, dan platinum. Setiap level punya kewajiban berbeda yang seolah menjanjikan keuntungan berlipat berbeda pula.

Legalitas yang Meragukan, bahkan Tidak Mengantongi Izin

Berbagai modus investasi bodong mungkin dapat dihindari lebih cepat, jika Anda langsung mengenali keraguan latar belakang dari si pelaku. Kumpulkanlah informasi sebanyak mungkin tentang riwayat perusahaan, detail produk investasi, cara pemasaran, serta pencatatannya di Otoritas Jasa Keuangan, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), maupun Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *